Thursday, 21 February 2019

MEMPERKUAT POLISI DENGAN JARINGAN INTELIJEN WARGA (JIWA)

Polisi ada di dalam genggaman warga. Maksudnya adalah setiap warga pemilik HP dapat melaporkan kejadian di sekitarnya sebagai bagian ikut membangun kepolisian. Ketika Kapolri Tito Karnavian memasuki era e-policing dan satu desa satu polisi, gagasan intelijen warga dapat menjadi salah satu solusi.

 

Memperkuat intelijen polisi dengan jaringan intelijen warga disingkat JIWA) atau dalam bahasa Inggris disebut Citizen Intelligence Network (CIN) adalah solusi yang bisa dikembangkan lebih jauh untuk menjawab lemahnya intelijen polisi. JIWA dimaksudkan sebagai alternative melibatkan warga membantu polisi dalam bidang intelijen.

Konsep JIWA atau CIN pada prinsipinya adalah membuka kemungkinan kepada setiap warga negara untuk memberikan informasi kepada polisi mengenai kejadian di lingkungannya. Sifatnya sukarela. Polisi harus menyediakan ruang cukup yang mampu menampung laporan masyarakat, setiap hari. Ruang itu bisa berupa ruang maya atau portal khusus dengan server yang cukup besar yang mampu menampung laporan video,foto, teks dan bisa interaktif langsung antara polisi yang bertugas dengan warga yang melapor. Selain ruang maya, polisi juga dapat menyediakan kotak pos untuk menampung masukan tertulis.

Pihak kepolisian menyiapkan desk khusus yang menangani setiap laporan. Bisa saja ada bagian konflik sosial, bagian perkara, keluhan masyarakata soal pelayanan, dan lain-lain. Petugas inilah yang memilah dan memilih mana laporan yang perlu ditindaklanjuti dan mana yang tidak. Laporan pastinya mencantumkan identitas dan alamat yang bisa dikonformasi. Saat ini dengan teknlogi yang tingggi masyarakat berfikir keras untuk menyampaikan laporan tanpa data, bahkan gambar dan ujaran kebencian pun bisa dipidana, sehingga setiap laporan haruslah benar adanya dan bisa ditelusuri. Artinya bisa dipertanggungjawabkan. Laporan yang disampaikan melalui handphone android akan mudah dilacak siapa pelapornya, sehingga masyarakat tidak bisa main-main.

Pendek kata, ketika polisi memasuki era digital, era internet, dan pusat komunikasi ada di genggaman (hampir) setiap warga, maka tidaklah sulit semua informasi dapat masuk ke portal khusus yang disediakan untuk menerima masukan dan laporan.

Informasi ini menjadi sangat murah karena tanpa harus belanja informasi, semua informasi dari warga sudah datang sendiri. Persoalannya tinggal bagaimana memilah dan memilih mana informasi yang bisa ditindak lanjuti secara cepat dan mana pula yang hanya sekadar sampah.

Jaringan Intelijen Warga membutuhkan pimpinan, yang mampu mengorganisir informasi. Di dalamnya paling tidak terdapat ahli komunikasi, ahli teknologi informasi dan pengamat sosial. Fungsinya adalah menganalisis perkembangan sosial yang dilaporkan warga. Setiap saat, jika diperlukan, diadakan pertemuan yang membahas situasi sosial.

Pelibatan warga dalam hal intelijen ini dapat merupakan pengembangan dari konsep community policing yang diperjelas, dan pengembangan forum kemitraan polisi dan masyarakat yang selama ini sudah ada.

 

Sisi Positif

Sisi positif konsep JIWA: Pertama adalah menumbuhkan kepedulian masyarakat tentang perlunya mengamankan lingkungan yang harus dijaga secara bersama-sama. Kedua, setiap gangguan keamanan yang terjadi di masyarakat dapat terdeteksi dini, sehingga secara cepat dapat ditanggulangi sebelum peristiwa itu meledak.

Ketiga, mengatasi minimnya anggaran kepolisian untuk intelijen. Keempat juga mengatasi minimnya sumber daya manusia Polri yang sampai saat ini masih sekitar 1:1300 (satu orang polisi mengamankan 1.300 orang).

Sisi negatifnya kemungkinan akan dicibir sebagai detektif swasta atau apapun namanya. Juga kemungkinan akan dianggap tumpang tindih dengan peran informan yang sudah ada; atau mungkin akan dianggap semakin membuat tidak nyaman karena tiap orang boleh menginteli orang lain. Tentu maksudnya bukan begitu.

Makasudnya adalah setiap potensi kerawanan sosial seharusnyalah dilaporkan kepada aparat berwenang, agar dapat dicegah jangan sampai menjadi peristiwa yang tidak dikehendaki. Itu prinsipnya, jadi setiap RT ataupun RW dan bahkan setiap warganegara, mari laporkan benih-benih gangguan keamanan dan ketertiban kepada JIWA melalui portal intelijen.

Ketika Kapolri Tito Karnavian mentargetkan tiap desa satu polisi pada tahun 2021, maka konsep JIWA ini dapat menjadi jembatan dan nantinya bisa bersinergi. Bahkan ketika satu desa satu polisi belum tercapai, konsep JIWA bisa langsung jalan. Hanya membutuhkan waktu beberapa minggu saja untuk menyiapkan system IT, WEB atau portal, dan aplikasi di HP android.

Mengadopsi Citizen journalism

Kesimpulannya, berdasarkan gambaran konsep citizen intelligence network tersebut, maka polisi sebagai aparat penegak hukum maupun sebagai pelayan dan pelindung masyarakat akan sangat terbantu oleh kehadiran JIWA atau CIN.

Konsep ini sesungguhnya terinspirasi dari konsep citizen journalism yang sedang berkembang di Indonesia, antara lain dipelopori oleh wartatv.com, sebuah portal televisi internet. Wartatv.com sebagai portal berita secara tegas menyatakan sebagai portal tv pertama di Indonesia yang mengusung citizen journalism dan real time.

Berita yang disiarkan wartatv bukan hanya yang berasal dari video jurnalis yang secara industrial menjadi bagian dari tim redaksi, melainkan berasal juga dari masyarakat luas. Masyarakat atau warga dapat mengirimkan hasil kegiatan jurnalistiknya ke Redaksi Wartatv.com, kemudian Wartatv.com mengedit dan menyiarkannya di Wartatv.com.

Selama ini, setiap kali ada konflik sosial meledak, polisi langsung disorot dan dituduh kecolongan. Aksi kekerasan yang terjadi di Cikeusik dan Temanggung, juga di Sape NTB dan Mesuji Lampung dan Sumatera Selatan. Semuanya mengarahkan tuduhannya kepada polisi sebagai lembaga yang tidak peka dan lambat mengatasi situasi.

Peran intelijen Polri yang kurang serta anggaran minim dituding menjadi salah satu persoalan yang perlu dicari penyelesaiannya. Wakil Ketua Komisi III DPR RI, Tjatur Sapto Edy menjelaskan, anggaran Polri sebesar Rp30,5 triliun, tidak sampai Rp100 miliar yang dipakai untuk upaya preventif dari intelijen kepolisian.

Tjatur menuturkan kekuatan dan kemampuan intelijen Polri di daerah harus ditingkatkan guna mengantisipasi terulangnya aksi kekerasan seperti yang terjadi di Cikeusik dan Temanggung.

Intelijen di Polres-Polres pertahunnya hanya diberi dana Rp 40 juta, perbulan sekitar Rp 3 juta, jadi kalau sehari hanya Rp 100 ribu untuk operasional intel, mana cukup?. (Syaefurrahman Al-Banjary, Wartawan pemerhati Kepolisian, pengelola tv intenet www.wartatv.com)

Tags: Brandeinsatz, Feuerwehr

test

Apa itu Puskompol?

Pusat Studi Komunikasi Kepolisian (Puskompol) adalah lembaga nirlaba berbadan hukum yayasan yang fokus kegiatannya pada bidang komunikasi publik, seperti kepenulisan, jurnalistik, penelitian, penerbitan dan publik relation terkait dengan pemolisian masyarakat (community policing).

Lembaga ini lahir didorong oleh sebuah keprihatinan para pendirinya yang melihat bahwa

(1) reformasi kepolisian memerlukan banyak cara dalam mengkomunikasikan gagasan, penegakan hukum dan kegiatan pemolisian lainnya; namun faktanya masih sedikit model komunikasi yang tepat dan mampu membantu pemulihan citra positif kepolisian

(2) yang terjadi justeru lebih banyak informasi yang destruktif dan merugikan publik dan lembaga kepolisian;

(3) karena itu cara komunikasi itu memerlukan kajian dan studi agar ragam informasi dapat disampaikan secara tepat sesuai dengan sasaran dan tujuannya. 

test

Program kerja

1. Pelatihan jurnalisme kepolisian

2. Penulisan buku Teknik Menulis Berita Kepolisian

3. Penulisan Buku Tokoh-tokoh Kepolisian

4. Penerbitan media kepolisian

5. Penelitian kepolisian

6. Seminar dan lokakarya komunikasi kepolisian

7. Menggalang partisipasi publik untuk basiswa studi Kepolisian

Pusat Studi Komunikasi Kepolisian berkedudukan di Jakarta, didirikan untuk waktu yang tidak ditentukan lamanya.

Lembaga ini dapat didirikan cabang di berbagai daerah dalam wilayah Republik Indonesia dalam rangka membantu Kepolisian Republik Indonesia.

Denzel Ward Jersey